
SEBELUM PAGI HARI
"Pah," sembari tangan mungilnya memukul ringan di dadaku. Aku lihat langit dari jendela kamar masih gelap, bahkan suara kokok ayampun belum terdengar. (Ato mungkin di komplekku sudah tidak ada lagi yang memelihara ayam ya). Berat sekali untuk menngangkat tubuh ini. Kalo bukan karena “pukulan” dan celotehan lucu anakku, aku memilih untuk memeluk guling di balik selimut. Ah….
Saat kulirikan mata ke samping kanan, kulihat sesosok bidadari cantik yang sedang menghamparkan kain kesucian ke arah kiblat. Dalam kesengajaan mata kami bertemu dan…cesss… indahnya ketika aku lihat senyum merekah bidadariku ini. Beruntungnya aku mendapatkan dia. Tiga kain telah terhampar di sebuah sudut rumahku.
PAGI HARI JAM 6
Aku mesti pagi-pagi brangkat ke kantor hari ini. Sarapan special yang telah disiapkan sudah aku santap habis. Aku siapkan sepeda polygonku untuk mengantarkan aku ke tempat kerja. Seneng banget ketika tangan ini d kecup mesra oleh istriku, “Hati-hati ya sayang, doaku untuk setiap langkahmu”. Aku pikir kata-kata itu hanya ada pada sinetron saja, tapi bener ga nyangka, ini terjadi pada realita kehidupanku. Anakku yang sudah bisa berjabat tangan, menyusul mencium tanganku bahkan terkadang menjilati dan menggigit kecil di punggung telapak tangan sambil ketawa. Ku balas mencium ubun-ubunnya yang wangi, khas aroma anak umur 23 bulan.
Pintu pagar dah aku tutup dari luar, kusiap menggoes polygonku, dan.... “Huaaaa....” anakku menangis, “Papa... ituuttt”. Inilah kejadian yang hampir rutin d setiap pagi. Aku mengerti, itulah tangisan cinta.
SORE HARI JAM 5-AN
Jatahku mandiin si ganteng (sebutan untuk anakku). Seperti biasa, suka-ria main air. 8 menit, yap sudah selesai. Saatnya pake bedak, baju dan perlengkapan lainnya. Tradisi setelah mandi aq biasa main pukul-pukulan bantal bahkan smakcdown2-an bersama si ganteng. Saking gemesnya aku melihat cekikikan tawa anakku, tanpa sadar tergigitlah telinga kirinya. “Huaaaa....” spontan nangis sekencang-kencangnya. Segera kupeluk, “Sayang, maafin papa yah, sumpah nak papa ga sengaja”. Permintamaafanku ga mempan membuat dia diam. “Aha... masih ada stok coklat di tas, Sayang.... mau?” tiga detik setelah aku tawarkan itu coklat, semua brubah 180 drajat. Nangis jadi diem, manyun jadi ketawa, yahhh... begitu mudahnya melupakan kesalahan orang lain.
Terimakasih sayang, kau telah mengajarkanku mengenal surga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar