Minggu, 30 Maret 2008

Dari Novel ke Layar Lebar (A2C)

Tiga juta penonton, wow angka yang fantastis. Brarti saya juga termasuk 1 angka di balik 3 juta itu loh (maksudnya apa coba..he..) Yah memang fenomenal, sebuah karya novel yang di filmkan dan mendapat apresiasi luar biasa. Kenapa ya, orang banyak yang nonton?




Menurut pengamatan saya seh ada 4 alasan:
Pertama, orang yang memang sudah baca novelnya. * Utk info: novelnya juga best seller. Otomatis penasaran banget dong untuk liat visualisasinya,
Kedua, Judulnya marketebel banget.
Ketiga, yang garap flemnya mas Hanung yang sukses di GET MARRIED nya. Brarti pasti kerenz juga dong...
Keempat, ajang coba-coba. Habisnya penasaran banget, di berita, infotainment semua ngomongin abis A2C. Alasan keempat ini juga bisa karena di ajak nonton gratisan sama temen satu kost. Yah.. ketauan deh..

Pendapat orang setelah nonton juga beda-beda, ada yang nangis mengharu biru, ungu, ijo, halah.... Beda lagi sama yang, "Yah.. ko ga segerimis novelnya ya". Ada juga yang vokal, ini mah bukan Ayat-Ayat Cinta, tapi Ayat-Ayat Poligami wuakakaak. Seneng banget tuh para lelaki, dibelain sama film ini, wuakakak

Nah.. kalo menurut saya neh, film ini lumayan colorfull boo. Romantis, kesederhanaan, komedi, dan religi banget.
Kalo ada yang coment ko ga seutuh novelnya ya???
Menurut saya seh, simpel dan maklum banget. Untuk memvisualisasikan tulisan yang 300 halaman lebih itu ga segampang beli gorengan di depan kost2-an. (padahal beli gorengan aja rada susah, maklum minyak goreng mahal). Ditambah dengan kepentingan sponsor, PH yang garap filemnya, produser, durasi film, dan pasti kepentingan marketnya. Sudah pasti ga bisa 100 persen seidelaisme penulisnya (Kang Abik). Tiap kepala, otaknya beda2 bukan? Gitooo...

Tapi bener lho, Jakarta disulap menjadi Kairo bener2 top margotop, gud marsogud. Sungai Gangga menjadi sungai Nil, wahh.. ini kalo saya yang bikin film, mentok2 paling nyampe sungai ciliwung aja. He...

Sukses buat mas Hanung n the gank, sudah bikin atmosfir baru untuk industri perfilman Indonesia.

Kang Abik, terus nulis yah... sapa tau tulisannya terus di pantau sineas-sineas berkualitas di negri ini.

Sabtu, 29 Maret 2008

Mendaftarkan Website ke Google

Google merupakan search engine paling popular saat ini, tidak heran banyak pemilik website atau blog ingin terindeks di Google supaya mendapatkan pengunjung. Google sendiri menyediakan layanan untuk mendafarkan suatu website baru supaya terindeks oleh google.
Untuk mendatarkan website ke Google tidaklah sulit, hanya saja link menuju form pendaftaran agak berputar-putar dan berada ditempat yang tidak wajar.

Cara mendaftarkan website di Google :
1. Kunjungi Google.com
2. Scroll kebawah, klik About Google atau Serba-serbi Google jika menggunakan Google.co.id.
3. Pilih Submit Your Content To Google atau Tambah/Update URL Anda.
4. Pilih Add your URL to Google’s index, jika Anda menggunakan Google.com. By pass langkah ini jika menggunkan Google.co.id.
5. Masukan URL, Comment boleh dikosongkan.
Tunggu beberapa hari sampai website terindeks.

Cara ini bukanlah satu-satunya cara agar website cepat terindeks, jika anda mempunyai blog cukup update blog anda sesering mungkin, maka spidernya Google akan datang ke website Anda melakukan indexing.

Kamis, 27 Maret 2008

Doa Sang Jenderal

Pada masa perang dunia kedua, tepatnya bulan Mei Tahun 1952, seorang jenderal kenamaan, Douglas Mac Arthur, menulis sebuah puisi untuk putra tercintanya yang saat itu baru berusia 14 tahun. Puisi tersebut mencerminkan harapan seorang ayah kepada anaknya. Ia memberi sang anak puisi indah yang berjudul "Doa untuk Putraku" Inilah isi puisi tersebut:

Tuhanku...
Bentuklah putraku menjadi manusia yang cukup kuat
untuk mengetahui kelemahannya.
Dan, berani menghadapi dirinya sendiri saat dalam ketakutan.
Manusia yang bangga dan tabah dalam kekalahan.
Tetap Jujur dan rendah hati dalam kemenangan.

Bentuklah puteraku menjadi manusia yang berhasrat mewujudkan cita-citanya
dan tidak hanya tenggelam dalam angan-angannya saja.
Seorang Putra yang sadar bahwa mengenal Engkau
dan dirinya sendiri adalah landasan segala ilmu pengetahuan.

Tuhanku...
Aku mohon, janganlah pimpin puteraku di jalan yang mudah dan lunak.
Namun, tuntunlah dia di jalan yang penuh hambatan dan godaan, kesulitan dan tantangan.
Biarkan puteraku belajar untuk tetap berdiri di tengah badai dan senantiasa belajar
untuk mengasihi mereka yang tidak berdaya.

Ajarilah dia berhati tulus dan bercita-cita tinggi,
sanggup memimpin dirinya sendiri, sebelum mempunyai kesempatan
untuk memimpin orang lain.

Berikanlah hamba seorang putra yang mengerti makna tawa ceria
tanpa melupakan makna tangis duka.
Putera yang berhasrat untuk menggapai masa depan yang cerah
namun tak pernah melupakan masa lampau.

Dan, setelah semua menjadi miliknya...
Berikan dia cukup rasa humor sehingga ia dapat bersikap sungguh-sungguh
namun tetap mampu menikmati hidupnya.

Tuhanku...
Berilah ia kerendahan hati...
Agar ia ingat akan kesederhanaan dan keagungan yang hakiki...
Pada sumber kearifan, kelemahlembutan, dan kekuatan yang sempurna...

Dan, pada akhirnya bila semua itu terwujud,
hamba, Ayahnya, dengan berani berkata "hidupku tidaklah sia-sia"

Senin, 24 Maret 2008

Kau ajarkan aku surga


SEBELUM PAGI HARI
"Pah," sembari tangan mungilnya memukul ringan di dadaku. Aku lihat langit dari jendela kamar masih gelap, bahkan suara kokok ayampun belum terdengar. (Ato mungkin di komplekku sudah tidak ada lagi yang memelihara ayam ya). Berat sekali untuk menngangkat tubuh ini. Kalo bukan karena “pukulan” dan celotehan lucu anakku, aku memilih untuk memeluk guling di balik selimut. Ah….
Saat kulirikan mata ke samping kanan, kulihat sesosok bidadari cantik yang sedang menghamparkan kain kesucian ke arah kiblat. Dalam kesengajaan mata kami bertemu dan…cesss… indahnya ketika aku lihat senyum merekah bidadariku ini. Beruntungnya aku mendapatkan dia. Tiga kain telah terhampar di sebuah sudut rumahku.

PAGI HARI JAM 6
Aku mesti pagi-pagi brangkat ke kantor hari ini. Sarapan special yang telah disiapkan sudah aku santap habis. Aku siapkan sepeda polygonku untuk mengantarkan aku ke tempat kerja. Seneng banget ketika tangan ini d kecup mesra oleh istriku, “Hati-hati ya sayang, doaku untuk setiap langkahmu”. Aku pikir kata-kata itu hanya ada pada sinetron saja, tapi bener ga nyangka, ini terjadi pada realita kehidupanku. Anakku yang sudah bisa berjabat tangan, menyusul mencium tanganku bahkan terkadang menjilati dan menggigit kecil di punggung telapak tangan sambil ketawa. Ku balas mencium ubun-ubunnya yang wangi, khas aroma anak umur 23 bulan.
Pintu pagar dah aku tutup dari luar, kusiap menggoes polygonku, dan.... “Huaaaa....” anakku menangis, “Papa... ituuttt”. Inilah kejadian yang hampir rutin d setiap pagi. Aku mengerti, itulah tangisan cinta.

SORE HARI JAM 5-AN
Jatahku mandiin si ganteng (sebutan untuk anakku). Seperti biasa, suka-ria main air. 8 menit, yap sudah selesai. Saatnya pake bedak, baju dan perlengkapan lainnya. Tradisi setelah mandi aq biasa main pukul-pukulan bantal bahkan smakcdown2-an bersama si ganteng. Saking gemesnya aku melihat cekikikan tawa anakku, tanpa sadar tergigitlah telinga kirinya. “Huaaaa....” spontan nangis sekencang-kencangnya. Segera kupeluk, “Sayang, maafin papa yah, sumpah nak papa ga sengaja”. Permintamaafanku ga mempan membuat dia diam. “Aha... masih ada stok coklat di tas, Sayang.... mau?” tiga detik setelah aku tawarkan itu coklat, semua brubah 180 drajat. Nangis jadi diem, manyun jadi ketawa, yahhh... begitu mudahnya melupakan kesalahan orang lain.

Terimakasih sayang, kau telah mengajarkanku mengenal surga.